Minggu, 14 Januari 2018

POLA ALOKASI KEUANGAN BISNIS


POLA ALOKASI KEUANGAN BISNIS DARI MODAL BERUTANG

Apabila modal bisnis Anda dari berutang, saya sarankan segera jual jaminan aset utang tersebut bila jaminannya atas nama Anda pribadi.

Mengapa? Ketahuilah bahwa hampir 90% kejatuhan bisnis adalah akibat modal bisnisnya diperoleh melalui pinjaman bank atau pinjaman dari investor yang mengandung riba. Ketahuilah Riba itu haram maka hindarilah.

Apabila perolehan modal dari utang yang jaminannya tidak memungkinkan untuk Anda jual, misalnya jaminan utangnya dari aset atas nama orang lain atau keluarga, maka Anda harus segera bisa mengembalikannya dan menjaga agar aset tersebut bisa diselamatkan.

Aset jaminan bisa diselamatkan tentunya bila bisnis Anda bisa selamat dulu, bukan? Oleh karena itu formula pola ini harus segera Anda laksanakan demi penyelamatan bisnis Anda. Perhatikan benar polanya bahwa bagian yang dibayarkan untuk pembayaran utang adalah diambil dari laba bisnis (net profit), bukan dari omset bisnis Anda.

Omset Anda harus digunakan terlebih dahulu untuk pembayaran pengeluaran seperti : Gaji Anda, gaji karyawan, utang suplier dan biaya operasional bisnis.

Pengaturan  pola keuangan bisnis harus dilakukan dengan cara mengalokasikan net profit bisnis, baik bisnis yang dihitung perhari, perbulan, perkuartal ataupun tahunan dengan pola sebagai berikut :

1). Sebesar 10% dari net profit usaha, Anda keluarkan terlebih dahulu sebagai sedekah.
Apakah sedekah ini boleh untuk keluarga saya? Boleh-boleh saja.

Prinsipnya hampir sama dengan pola alokasi keuangan pribadi bahwa sedekah ini harus dikeluarkan sebagai ungkapan syukur kita karena Ridho Allah atas bisnis yang kita jalankan.

2). Profit usaha sebesar 20%-nya disisihkan  sebagai tabungan untuk pengembangan bisnis Anda.

Gunakan tabungan ini disaat bisnis Anda ingin dikembangkan, misalnya untuk menambah alat-alat produksi ataupun stock. Penggunaan tabungan ini pada prinsipnya hanya untuk pengembangan bisnis.

Jangan gunakan tabungan ini untuk hal lain selain pengembangan bisnis Anda. Anda harus memegang teguh hal ini. Apabila pengembangannya memerlukan modal besar, maka simpanlah sebagai tabungan sampai dirasakan cukup.

Seandainya penggunaannya bisa langsung dibelanjakan, bijaksanalah bahwa pengembangan bisnis Anda dilakukan berdasarkan kebutuhan yang memang marketnya sudah ada. Sehingga pengembangan bisnis Anda tidak sia-sia.

3). 30% dari Profit gunakan untuk membayar utang perusahaan Anda.
Pahami ini bukan utang karena stock barang yang Anda beli dari suplier, tetapi utang modal yang mungkin dulu Anda ambil dari Bank. ( Sekarang sudah taubat kan, tapi utangnya harus dibayar).

Utang barang atau kebutuhan bisnis dari suplier harus Anda bayarkan dari omset perusahaan yang dananya Anda ambil dari cash flow usaha. Sehingga masuk dalam catatan keuangan bisnis.

Kebanyakan pebisnis membayar utang mengambil dari omset usaha, sehingga mengganggu stabilitas usahanya. Giliran bayar gaji karyawan, bayar supplier dan biaya lainnya kebingungan karena dananya terpakai bayar utang modal pertama.

Dulu saya melakukan ini, sehingga menyebabkan kehancuran bisnis saya, tentu juga karena memang karena dosa riba. Maka Ubah pola keuangan bisnis Anda, dengan membayar utang modal bank dari profit yang Anda sisihkan.

Disamping bisnis Anda tidak terpengaruh, karyawan Anda pun tenang dan tetap memperoleh gaji dengan aman. Ingat Utang Modal adalah RESIKO dan DOSA ANDA bukan karyawan Anda maka jangan korbankan mereka.

Langkah selanjutnya adalah membuat catatan utang modal bisnis Anda, dan bayarkan secara proporsional dari total 30% laba bisnis. Ini sama teknisnya dengan pengalokasian pembayaran utang pribadi.

Bila kurang tentu Anda harus bernegoisasi dengan pihak Bank agar utang bisa dicicil sesuai dengan besarnya profit yang Anda sisihkan ini.

4). Bagian 40% dari profit berikan kepada para pemegang saham.

       Bila Anda pemegang saham tunggal maka bagian ini adalah penghasilan Anda. Sehingga setelah dana ini masuk dalam rekening pribadi Anda gunakan pola alokasi penghasilan pribadi, yaitu untuk sedekah, tabungan investasi dan kebutuhan hidup keluarga.

Bila  Anda rasakan bahwa melalui gaji sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup Anda, maka bagian ini bisa Anda langsung alokasikan untuk menambah modal bagi pengembangan usaha bisnis Anda ini.

Bagaimana bila bisnis ini bekerjasama dengan partner? Informasikan teknis pembagian share ini kepada partner Anda sehingga dia mengerti dan mau ikut mengawasi sistem pembagian share ini.

Saran saya bila bisnis Anda merupakan kerjasama dengan orang lain, bicarakan dari sekarang bahwa pola pembayaran utang akan menggunakan sistem ini, berikan dia penjelasan atau persilahkan untuk membaca artikel ini juga atau membaca Buku LUNAS UTANG dan BISNIS TANPA RIBA.

Saya rasa ia akan sangat setuju kenapa? Karena dengan pola ini bisnisnya akan terselamatkan dari kehancuran.

       POLA ALOKASI KEUANGAN BISNIS DARI MODAL TIDAK BERUTANG

Apabila modal bisnis Anda dari modal sendiri tanpa berutang tentu akan sangat mudah mengalokasikannya. Kuncinya hanya tinggal pisahkan keuangan bisnis dengan keuangan pribadi tadi.

Puji dan syukur pada Allah bahwa bisnis saya sekarang berjalan tanpa utang riba, sehingga sudah menggunakan pola alokasi keuangan ini. Saya berharap Anda pun segera masuk menggunakan pola alokasi keuangan bisnis ini.

Pengaturan  pola keuangan bisnis tanpa utang pun harus dilakukan dengan cara net profit usaha yang dialokasikan baik usaha yang dihitung perhari, perbulan, perkuartal ataupun tahunan. Pengaturannya dengan pola sebagai berikut :

1. Sebesar 10% dari net profit usaha, Anda keluarkan terlebih dahulu sebagai sedekah.

Penggunaan sedekahnya sama polanya dengan pola alokasi keuangan pribadi, seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, bisa digunakan untuk keluarga terlebih dahulu kemudian untuk masjid atau orang lain yang membutuhkan.

Bisa juga Anda khususkan bagi membantu salah satu yayasan sosial yang Anda tunjuk, sehingga bisnis Anda rutin setiap bulannya atau setiap Anda menghitung laba usaha bisa memberikan bantuan sedekah.

 2. Profit usaha sebesar 30%-nya disisihkan  sebagai tabungan untuk pengembangan bisnis Anda.

Penggunaan tabungan ini pun sama. Hanya digunakan untuk pengembangan bisnis Anda. Pahami betul dan komitmenkan tabungan ini hanya untuk pengembangan bisnis Anda.
 3. Bagian 60% dari profit berikan kepada para pemegang saham.

     Bila Anda pemegang saham tunggal maka bagian ini adalah penghasilan Anda.

Seandainya bisnis Anda dari kerjasama dengan partner lain maka pembagian dari deviden ini pun seperti yang dipaparkan diatas, bagikan kepada siapa para pemegang saham dari bisnis Anda.

Tentunya dengan terlebih dahulu memberitahukan bahwa pola pembagian deviden sekarang berubah.

Seandainya ini milik usaha Anda sendiri, kemudian Anda mau merubah pola prosentase alokasi dari laba bisnis ini, misalnya dibesarkan di sedekahnya, Atau di pengembangan usahanya.

Boleh-boleh saja, lakukan sebatas yang baik dan sesuai dengan target yang Anda inginkan.

Bila Anda ingin target sedekahnya yang besar, maka perbesar prosentase sedekah. Bila dipengembangan bisnis yang ingin Anda fokuskan, maka prosentase tabungan pengembangan bisnis yang Anda besarkan.

0 komentar:

Posting Komentar

 
p